Warsud ~ Pria Peraup Ratusan Juta Bermodalkan 500 Ribu

Warsud ~ Pria Peraup Ratusan Juta Bermodalkan 500 Ribu

Apakah bisnis yang tidak lekang oleh waktu? Bisnis fashionBisnis ini tidak akan pernah sepi dari pembeli. Fashion ini juga sudah menjelma sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia dan sudah menjadi bagian dari lifestyle banyak orang.  Banyak usaha yang bisa kita jalani dari lini bisnis ini seperti mejadi seorang desainer, produsen fashion baik itu skala rumahan maupun skala industri, jasa jahit menjahit atau yang paling mudah adalah menjadi broker atau distributor saja.

Begitu juga dengan pak Warsud. Warsud tertarik menekuni usaha fashion ini dengan menjadi seorang penjahit pakaian. Awalnya Warsud tidak memiliki ketrampilan dibidang ini, namun dengan belajar sendiri, Warsud berhasil mengembangkan usahanya sehingga beromset ratusan juta rupiah.

Warsud sendiri tidak tamat dari SMA. Tap dengan tekad yang tinggi, ia memberanikan diri merantau ke Bandung sekitar 1980 dengan hanya bermodal ijazah SMP.  Harapannya sewaktu tiba di bandung, ia berniat untuk melanjutkan ke jenjang SMA, namun masalah ekonomi membuatnya memupuskan harapan.  Ia sering melamar ke beberapa tempat dengan modal ijazah SMA, tapi tidak ada yang mau menerima. Akhirnya dengan terpaksa dia ikut membantu kakaknya dalam usaha jasa jahitan. Awalnya dia hanya menjadi tukang jahit saja. Namun perlahan demi perlahan secara otodidak, ia belajar cara memotong bahan dan tehnik tehnik lainnya yang berhubungan dengan profesi tukang jahit.

Pada tahun 1988, Warsud berencana untuk membuka jasa jahitan sendiri. Banyak pro dan kontra yang dia terima dari orang lain khususnya kakak kakaknya sendiri. Mereka khawatir Wahid tidak dapat bersaing dan menanggung kerugian jika ia jadi membuka usaha jahit sendiri. Malah ia disarankan untuk segera menikah terlebih dahulu. Dengan terpaksa Warsud menerima saran dari kakak kakaknya. Dengan hanya bermodalkan Rp 500.000, ia jadi menikah.  Atas saran kakaknya sendiri, ia menggunakan Rp 50.000 untuk modal menikah dan sisanya untuk membuka jasa jahitan.

Setelah menikah, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari lokasi yang cocok dengan usahanya. Akhirnya dia menemukan tempat usaha dijalan raya Cipadung yang dekat dengan bundaran Cibiru. Warsud menyewa tempat tersebut dengan biaya Rp 300.000 / tahun . Sisanya ia pergunakan untuk membeli peralatan jahit beserta pernak perniknya.  Dalam usahanya merintis jasa jahit ini,

Beliau mendapatkan bantuan dari kakaknya berupa 1 buah mesij jahit, 1 mesin obras dan 1 mesin potong. Dengan modal itulah kemudian Warsud membuka usahanya dengan brand Family Taylor. Untuk awalnya karena belum mendapat customer, ia meminta kakanya untuk memberinya order jahitan. Lama kelamaan orang orang sudah mulai berdatangan ke tempat usahanya.

Tidak seperti orang lainnya, dalam menjalankan usahanya, Warsud terkenal fleksibel. Bapak empat orang anak ini membiarkan segala sesuatu jalan dengan apa adanya. Ia bahkan tidak tahu pasti berapa keuntungan yang dia peroleh selama sebulan. Yang pasti, dia selalu rutin dan disiplin dalam hal menabung. Ini dilakukannya untuk menjaga hal hal terduga yang bisa saja muncul tiap hari. Uang yang ia tabung tidak boleh diambil sama sekali. Dengan disiplin yang tinggi seperti inilah Warsud dapat bertahan dalam usahanya.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Irma Suryati, Antara Polio dan Kain Perca

Setahun pertama, Warsud sudah dapat mempekerjakan 5 orang. Hal ini menjelaskan bahwa usaha jahit Warsud berkembang pesat. Pada tahun 1991-1994, ia sempat kewalahan karena banyaknya order yang masuk kepadanya. Sehari ia menerima sekitar 40 orderan jahit. Ia pun kembali merekrut 10 orang pekerja lagi dengan sistem bayaran berapa potong jahitan yang mereka selesaikan.

Pada tahun 1994, Warsud mengembangkan usahanya dengan membuka toko alat alat jahit. Idenya ini tercetus ketika ia melihat bahwa banyak toko alat alat jahit yang tutup, padahal dia lagi membutuhkan bahan baku untuk jahitannya. Banyak yang berkeluh kesah karena masalah ini. Mendengar aspirasi dari customernya, maka ia melihat bahwa ide membuka toko alat alat jahit adalah sebuah peluang juga.

Mulai Merambah Dunia Properti.

Dari usahanya ini Warsud mampu membeli sebuah rumah di jalan desa Cipandung yang dijadikan tempat usahanya. Pada tahun 2006, tempat usahanya ini tutup dan pindah ke lokasi baru karena sudah tidak memungkinkan untuk beroperasi. Awalnya ia takut pelanggannya berkurang karena lokasi usahanya yang lama terbilang cukup stategis. Ketakutannya memang terbukti. Ia mengalami penurunan pelanggan, namun perlahan demi perlahan Warsud juga mendapat pelanggan baru.

Pada tahun 2004, ia membeli tanah dibelakang rumahnya dengan harga Rp 70.000. Karena kondisi bangunan diatas tanah tersebut sudah uzur dan tidak mungkin ditempati lagi, ia pun merenovasi bangunan tersebut dan dijadikannya tempat kos kosan mahasiswa. Lokasi yang dekat dengan kampus UIN Sunan Gunung Jati Bandung. Ia menghabiskan dana Rp 92 juta untuk membangun 9 kamar. Dua tahun berikutnya Warsud kembali menambah 9 kamar. Dana ia dapatkan dari tabungannya dan pinjaman dari bank. Dari usaha kos kosannya ini , ia bisa mendapat rp 33 juta / tahun pada saat itu.

Meskipun usaha properti Warsud  berkembang, tapi ia tidak lupa kacang akan kulitnya. Dia tidak lupa usaha jahit yang membuatnya seperti sekarang. Ia tetap tekun menekuni usaha jahitnya.  Kedepannya ia berencana untuk mewariskan usaha jahitnya kepada adiknya karena Warsud sendiri ingin fokus mengelola toko alat alat jahitnya. Awalnya Warsud ingin mewariskan usaha jahitnya kepada anak anaknya. Namun apa daya, seperinya mereka tidak ada yang berminat.

Tags: ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. pojokshareSeptember 5, 2016 at 3:28 pmReply

    gile bener cm modal segitu bisa meraup ratusan juta.
    tapi memang benar, di tempat saya aja tukang jahit hidupnya banyak yang mapan. Coba bayangkan gw motong celana panjang 3 cm aja bayar 15 ribu. gmn klo ada 10 konsumen kayak gw. itu baru mendekin celana belum jahit baju dll..

Leave a Reply

Loading Facebook Comments ...

%d bloggers like this: