Farida Oeyono ~ Penderita Polio Yang Berhasil Meraup Ratusan Juta

bangmarten.com – Farida Oeyono yang akrab disapa Afa memiliki kisah hidup yang berbeda dengan orang-orang lainnya. Pada saat usianya empat tahun, ia tiba-tiba mengalami demam dan pagi hari saat terbangun, tubuhnya mengalami panas dingin dengan kondisi kaki yang lemah dan tak mampu untuk berjalan. Ia tidak lagi bisa bermain dengan lincah dan selama berbulan-bulan hanya bisa tebraring lemah di atas kasur.

Afa lahir pada tahun 1964 di Pangkal Pinang, Bangka. Pada masa itu, fasilitas kesehatan yang terdapat di tempat tinggalnya masih sangat minim sehingga Afa hanya dibawa ke akupuntur dan diberi obat masuk angin. Pada saat itu, masih sedikit orang yang mengetahui tentang virus polio. Masyarakat masih belum mendapatkan informasi kesehatan yang baik. Orang tua Afa bekerja sebagai petani dan pedagang es keliling sehingga keduanya sibuk bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan.

Selama masa pengobatan, Afa berobat dan diterapi di rumah dengan merendam kaki di dalam air hangat agar peredaran darahnya lancar, menjemur kaki setiap pagi, dan belajar berjalan kembali. Ia dirawat oleh kakeknya selama hampir satu tahun.

Pada tahun 1978, Afa lulus SMEA dan pergi ke Jakarta untuk melamar pekerjaan sebagai tukang jahit di perusahaan konveksi. Sayangnya, ia mengalami kesulitan dengan penggunaan mesin jahit listrik. Kaki kanan Afa terasa sakit ketika menginjak mesin sehingga ia hanya bisa bertahan kerja selama dua hari. Afa kemudian bekerja di tempat kakak laki-lakinya dengan pekerjaan melakukan pemesanan, pengecekan, dan pengiriman barang. Usaha yang dijalankan semakin berkembang dan menuntut Afa untuk bekerja lebih giat lagi serta mengenal masyarakat rekan bisnisnya.

Farida Oeyono ~ Penderita Polio Yang Berhasil Meraup Ratusan Juta

Afa kemudian merintis usaha dengan membangun toko bangunan di Pasar Jembatan Merah. Pada awalnya, Afa tidak terlalu yakin dengan usaha mandirinya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Afa mampu meneguhkan hatinya untuk membuat sukses usaha yang dilakukannya. Selama dua belas tahun, Afa merintis usahanya dari mulai jatuh-bangun sampai akhirnya banyak orang yang memberi ucapan selamat atas keberaniannya menjalankan usaha mandiri tanpa kakak-kakaknya.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Habibie Afsyah, Penyandang Cacat yang Sukses di Dunia Internet

Dengan kerja kerasnya, Afa mampu membeli dan menempati ruko Permata Kota berlantai 3 di wilayah Tubagus Angke Jakarta Barat. Selain memasok barang di Jakarta, Afa juga memasok di daerah Sumatera seperti hanya Jambi, Palembang, Lampung, dan Bangka. Tidak hanya itu, ia juga bahkan bisa keliling dunia ke berbagai negara. Satu di antara sekian banyak negara yang telah dikunjunginya adalah Amerika. Saat datang ke Gedung Putih Washington DC, ia disambut oleh polisi wanita yang kemudian mengawalnya dengan penuh keramahan.

Saat itu, Afa datang dengan menggunakan kursi roda. Bahkan ada pengalaman tak terlupakan yang sampai saat ini masih menjadi kenangan baginya, yaitu saat kursi rodanya menginjak kaki tentara, namun tentara itulah yang justru meminta maaf berkali-kali kepadanya. Di negara itu, penyandang cacat adalah orang yang diutamakan sehingga Afa menganggap bahwa keterbatasan fisik bukan halangan bagi seseorang untuk bisa menjadi sukses.

Virus polio yang menemani hidup Afa justru menjadi penyemangat sekaligus rasa syukur bagi Afa untuk kemudian menjadi pribadi yang sukses dan dihargai banyak orang atas keberaniannya mengambil langkah.

Post Author: bangmarten.com

I'm an ordinary who desires nothing more than just an ordinary chance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Facebook Comments ...