Kisah Inspiratif Irma Suryati, Antara Polio dan Kain Perca

Kisah Inspiratif Irma Suryati

bangmarten.com – Irma Suryati lahir normal. Namun pada saat usianya 4 tahun, ia mengalami kelumpuhan akibat virus polio yang menerpanya. Untuk menjalani hari-harinya hingga dewasa, Irma Suryati tentu mengalami kisah yang panjang dan inspiratif. Ia dan suaminya yang juga sesama penyandang cacat kaki telah membuktikan kepada dunia bahwa menjadi penyandang cacat bukan halangan untuk dapat meraih mimpi dan menjadi orang yang berguna bagi dunia sekitarnya.

Irma dan suami berhasil membangun usaha kerajinan keset yang dimulai dengan modal kain perca atau sisa. Keset yang diproduksinya saat ini bahkan sudah menjadi komoditas yang sampai ke berbagai negara. Keduanya kini telah memiliki 2.500 perjain dengan 150 karyawannya adalah penyandang cacat. Tidak hanya itu, Irma juga telah menerima banyak penghargaan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga, Penghargaan dari Jaiki Jepang, dan Perempuan Berprestasi dari Bupati Kebumen.

Di balik kesuksesan Irma saat ini, terdapat cerita yang sangat menarik untuk diketahui. Irma yang sejak kecil mengalami layu kaki akibat polio masih bisa berjalan normal sampai SMA. Namun, saat itu dia sudah mulai merasa lemas jika disenggol sehingga ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Setelah lulus SMA, Irma pun kemudian memulai bisnis dengan membuat keset dari kain perca sisa industri garmen.

Kisah Inspiratif Irma Suryati

Pada mulanya, keset yang dibuatnya hanya digunakan untuk kebutuhannya sendiri. namun, karyanya yang bagus mulai dilirik oleh tetangga sehingga ia kemudian membentuk pasar kecil dan menjadi perajin keset. Ia kemudian secara serius membentuk usaha berbadan hukum yang diberi nama Usaha Dagang Mutiara Equipment. Ia juga membentuk Pusat Usaha Kecil Menengah Penyandang Cacat dan mendatangi para tetangganya untuk menjadi lebih produktif dan mengajari mereka membuat keset.

Baca Juga :  Perjuangan William Tanuwijaya Si Pendiri Tokopedia

Meski begitu, bukan berarti Irma tidak pernah mendapatkan hambatan dalam usahanya. Ia juga sempat menerima cibiran dan sindiran yang memandang sebelah mata dari usaha yang dijalankannya. Apalagi mereka mengetahui kalau Irma adalah penyandang cacat.

Masyarakat kemudian mulai menyadari bahwa apa yang diajarkan oleh Irma sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka. Omzet bulanan Irma pun semakin besar sehingga mencapai 40 sampai 50 juta. Irma pada saat itu mengandalkan 15 penjual dan menitipkan barangnya di beberapa gerai di berbagai kota, termasuk showroom milik Kementrian Pemuda dan Olahraga yang ada di Jakarta.

Selain melakukan pemasaran produk di dalam negeri, Irma juga mulai memasarkannya ke Australia, Jerman, Jepang, dan Turki. Ia juga mengadakan pertemuan setiap tiga bulan sekali untuk menjaga kualitas produknya agar jangan sampai menurun. Sampai saat ini, Irma sudah memproduksi 42 macam keset dnegan bentuk elips, binatang, dan bunga yang dipasarkan dengan harga 15 ribu per item (di dalam negeri) dan 35 ribu per item untuk konsumen luar negeri.

Sekarang ini, Irma juga membuat desain sajadah dan tikar dengan bahan dasar anyaman pandan. Hal ini juga sesuai dengan sumber daya yang ada di tempat tinggalnya, Kebumen yang menghasilkan perajin pandan.

Kesuksesan Irma dalam membentuk usahanya hingga bisa maju merupakan bukti bahwa cacat bukanlah sebuah halangan bagi seseorang untuk bisa berkarya dan memberdayakan seluruh sumber yang ada di sekitarnya demi kebaikan masyarakat dan dirinya sendiri. Irma juga membuktikan bahwa masyarakat lokal bisa bersaing secara ekonomi dengan masyarakat luar.

Post Author: bangmarten.com

I'm an ordinary who desires nothing more than just an ordinary chance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Facebook Comments ...